Rabu, 27 November 2013

Keutamaan Puasa Bulan Muharram dan Hari 'Asyura




1. Disunnahkan memperbanyak puasa pada bulan Muharram;
. 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
.
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
.
"Puasa yang paling utama sesudah puasa Ramadlan adalah puasa pada Syahrullah (bulan Allah) Muharram. Sedangkan shalat malam merupakan shalat yang paling utama sesudah shalat fardlu." (HR. Muslim, no. 1982)
.
Menurut Imam Mulla Ali Al-Qaari dalam mensyarah hadits diatas berkata, bahwa secara zahir, maksudnya adalah seluruh hari-hari pada bulan muharram ini. Tetapi telah disebutkan dalam hadits shahih bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam tidak pernah sama sekali berpuasa sebulan penuh kecuali di Ramadhan. Maka hadits ini dipahami, dianjurkan untuk memperbanyak puasa pada bulan Muharram bukan seluruhnya.” (Murqatul Mafatih Syarhu Misykatul Mashabih).
.
Namun sebagian Ulama’ seperti Syeikh Muhammad al-Mukhtar as-Syanqithi membolehkan untuk berpuasa sebulan penuh. (sebagaimana yang di nukil oleh Syeikh Jalal bin Ali Hamdan As-Sulami dalam makalah yang berjudul Dirasat Ushuliyyah Haditsiyyah li Shaum Asyura). Wallahu A’lam.
.
2. Terutama Sangat dianjurkan Untuk berpuasa Asyura pada tanggal 10 Muharram.
.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,
.
وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
.
“Puasa hari ‘Asyura, sungguh aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim no. 1975)
.
3. Disunnahkan juga puasa Tasu’a (9 Muharram).
.
Dalam hadits Shahih:
.
عن ابن عباس رضي اللَّه عنهما قال: " حين صام رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم يوم عاشوراء، وأمر بصيامه، قالوا: يا رسول اللَّه إنه يوم تعظّمه اليهود والنصارى؟ فقال رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم : فإذا كان العام القابل - إن شاء اللَّه - صمنا اليوم التاسع، قال: فلم يأت العام المقبل، حتى توفي رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم
.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, beliau berkata, “Ketika Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa padanya, mereka menyampaikan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nashrani.’ Lalu beliau Shallallaahu 'Alaihi Wasallam bersabda, ‘Kalau begitu, pada tahun depan insya Allah kita berpuasa pada hari kesembilan’. Dan belum tiba tahun yang akan datang, namun Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam sudah wafat.” (HR. Muslim, no. 1916)
------------------------------------------------------

Hadis-Hadis Seputar Puasa ‘Asyura:
.
1.      Diampuni dosa-dosanya selama 1 tahun [dosa-dosa kecil]
.
1. Dari Abu Qatadah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam, bersabda : 
.
" صيام يوم عاشوراء، أحتسب على اللَّه أن يكفر السنة التي قبله" .
.
“ Aku berharap pada Allah dengan puasa ‘Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
.
Imam Nawawi Rahimahullah dalam “Syarah Muslim” puasa asyura menghapus dosa-dosa kecil, kadarnya puasa tersebut adalah dapat menghapus dosa seluruhnya kecuali dosa dosa besar”
Dasar yang menunjukkan bahwasanya yang diampuni dosa-dosa kecil adalah hadits berikut:
.
ما ثبت في "صحيح مسلم" عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه أن رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم قال: " الصلوات الخمس، والجمعة إلى الجمعة، ورمضان إلى رمضان، مكفرات لما بينهن، إذا اجتنبت الكبائر" .
.
 Artinya: Dari Abi Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata: Rasulullullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Shalat lima waktu, shalat jum’at antara jum’at tersebut ke jum’at berikutnya, puasa ramadhan antara bulan Ramadhan ke ramadhan berikutnya,dapat menghapus dosa-dosa diantara keduanya, selama menjauhi dosa-dosa besar.” (Shahih, HR Muslim)
.
2.      Semangat Rasulullah dalam Mengamalkan Puasa Asyura
.
Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhu pernah menceritakan tentang puasa Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam,
.
مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلَّا هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ
.
 “Aku tidak penah melihat Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersemangat puasa pada suatu hari yang lebih beliau utamakan atas selainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari ‘Asyura dan pada satu bulan ini, yakni bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
.
3.      Puasa Asyura termasuk memperingati Nabi Musa, Karena hari tersebut adalah Hari dimana Musa bersama Bani Isra'il di selamatkan oleh Allah dari Musuh [Fir'aun dan Tentaranya]
.
Dalam hadits shahih:
.
عن عبد اللَّه بن عباس رضي اللَّه عنهما قال: " قدم رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم المدينة فرأى اليهود تصوم يوم عاشوراء، فقال: ما هذا؟ قالوا: هذا يوم صالح، نجّى اللَّه فيه موسى وبني إسرائيل من عدوهم، فصامه، فقال: أنا أحق بموسى منكم فصامه وأمر بصيامه" .
وفي رواية: " فصامه موسى شكراً، فنحن نصومه" .
وفي رواية أخرى: " فنحن نصومه تعظيماً له
Artinya:
Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata : Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari‚ Asyura, maka Beliau bertanya : “Hari apa ini?. Mereka menjawab :“ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, Karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini sebagai Rasa  Syukur kepada Allah, maka dari itu kami (orang-orang yahudi) berpuasa hari ini. Rasulullah pun bersabda : “Aku lebih berhak atas (mengikuti) Musa daripada kalian“ Maka beliau berpuasa dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa. (H.R. Bukhari dan Muslim)
 .
4.      Berpuasa Tasu’a Termasuk Puasa Yang di Lakukan Untuk Menyelisihi Yahudi
.
Dalam hadits shahih:
.
عن ابن عباس رضي اللَّه عنهما قال: " حين صام رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم يوم عاشوراء، وأمر بصيامه، قالوا: يا رسول اللَّه إنه يوم تعظّمه اليهود والنصارى؟ فقال رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم : فإذا كان العام القابل - إن شاء اللَّه - صمنا اليوم التاسع، قال: فلم يأت العام المقبل، حتى توفي رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم
 " .
Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam berpuasa pada hari Asyura, dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu, Lalu para sahabat berkata: Wahai Rasulullah, hari asyura’ adalah hari yang di agungkan orang-orang yahudi dan Nasrani, Lalu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab : “Jika tahun depan kita bertemu dengan bulan Muharram, kita akan berpuasa pada hari kesembilan (tanggal sembilan).“ (H.R. Bukhari dan Muslim)

------------------------------------

Bagaimana Berpuasa ‘Asyura ?

Ibnu Qoyyim rahimahullah dalam kitab Zaadul Ma’aad –berdasarkan riwayat-riwayat yang ada- menjelaskan :

- Urutan pertama, dan ini yang paling sempurna adalah puasa tiga hari, yaitu puasa tanggal sepuluh ditambah sehari sebelum dan sesudahnya (tgl 9, 10 & 11).

- Urutan kedua, puasa tanggal 9 dan 10. Inilah yang disebutkan dalam banyak hadits.

- Urutan ketiga, puasa tanggal 10 saja.

Puasa sebanyak tiga hari (9, 10,dan 11) dikuatkan para para ulama dengan beberapa alasan sebagai berikut :

1. Untuk menyelisihi Ahli Kitab.

2. Sebagai kehati-hatian, yaitu kemungkinan penetapan awal bulannya tidak tepat.

3. Dimasukkan dalam puasa tiga hari setiap bulan.
--------------------------------------------
Referensi:
Zadul Ma’ad Karya Imam Ibnul Qayyim Al-Jauzi
Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim Ibnul Hajjaj Karya Imam Nawawi
Dirasat Ushuliyyah Haditsiyyah li Shaum Asyura Karya Jalal bin Ali Hamdan As-Sulami
Dll.
.
[Lilik IbadurR (Abu Utsman)]


Selasa, 26 November 2013

Dalil-dalil Tentang Shalat Tahiyatul Masjid



 

Shalat tahiyatul masjid disyariatkan pada setiap saat, ketika seseorang masuk masjid dan bermaksud duduk di dalamnya. Ini merupakan pendapat Imam Asy-Syafi’i & Ahmad bin Hambal, dll.
Dalam hadis yang diriwayatkanoleh Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda,
.
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ
.
“Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk.” (HR. Al-Bukhari no. 537 & Muslim no. 714)
.
Jabir bin Abdillah -radhiyallahu ‘anhu- berkata,
.
جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ, فَجَلَسَ. فَقَالَ لَهُ: يَا سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا! ثُمَّ قَالَ: إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا
.
Artinya,“Sulaik Al-Ghathafani datang pada hari Jum’at, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berkhutbah, dia pun duduk. Maka beliau langsung bertanya padanya, “Wahai Sulaik, bangun dan shalatlah dua raka’at, kerjakanlah dengan ringan.” Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang dari kalian datang pada hari Jum’at, sedangkan imam sedang berkhutbah, maka hendaklah dia shalat dua raka’at, dan hendaknya dia mengerjakannya dengan ringan.” (HR. Al-Bukhari no. 49 dan Muslim no. 875)
.
Para ulama sepakat tentang disyariatkannya shalat 2 rakaat bagi siapa saja yang masuk masjid & mau duduk di dalamnya. Hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai hukumnya. Mayoritas ulama berpendapat shalat Tahiyatul Masjid adalah sunnah & sebagian berpendapat wajib. Yang jelas tidak sepantasnya seorang muslim meninggalkan syariat ini.
.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa shalat tahiyatul masjid adalah sunnah karena ada indikasi lain yang menyoal pada status hukum sunnah dan tidak wajib. Di antaranya,
.
Pertama, hadits Abdullah bin Busr,
.
حديث أبي داود والنسائي: أن رجلاً تخطى رقاب الناس والنبي صلى الله عليه وسلم يخطب فقال له: أجلس فقد آذيت
.
Artinya,“Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang melangkahi pundak-pundak manusia sedangkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkhutbah, maka beliau berkata, “Duduklah, sungguh engkau telah menyakiti mereka.” (Shahih, HR Abu Dawud (1118), Nasa’I, dll.  di shahihkan oleh Imam Al-Hakim,  Adz-Dzahabi, dll)
.
Kedua, hadis Thalhah bin Ubaidullah radhiyallahu Anhu, beliau berkata,
.
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ ثَائِرُ الرَّأْسِ نَسْمَعُ دَوِيَّ صَوْتِهِ وَلَا نَفْقَهُ مَا يَقُولُ حَتَّى دَنَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا هُوَ يَسْأَلُ عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ فَقَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُنَّ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ
.
Artinya, “Seorang laki-laki dari penduduk Nejd yang rambutnya berdiri datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kami mendengar gumaman suaranya, namun kami tidak dapat memahami sesuatu yang dia ucapkan hingga dia dekat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ternyata dia bertanya tentang Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,‘Islam adalah shalat lima waktu siang dan malam.‘ Dia bertanya lagi, ‘Apakah saya masih mempunyai kewajiban selain-Nya? ‘ Beliau menjawab, ‘Tidak, kecuali kamu melakukan shalat sunnah.” (HR. Bukhari (46), Muslim (11/76))
.
Ketiga, hadis AbuWaqid Al Laitsi radhiyallahu Anhu, beliau berkata,
.
عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ إِذْ أَقْبَلَ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَهَبَ وَاحِدٌ قَالَ فَوَقَفَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِي الْحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا وَأَمَّا الْآخَرُ فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ عَنْ النَّفَرِ الثَّلَاثَةِ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ فَآوَاهُ اللَّهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ
.
Artinya, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sedang duduk bermajelis di Masjid bersama para sahabat datanglah tiga orang. Yang dua orang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan yang seorang lagi pergi, yang dua orang terus duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dimana satu diantaranya nampak berbahagia bermajelis bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (di depan), sedang yang kedua duduk di belakang mereka, sedang yang ketiga berbalik pergi, Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai bermajelis, Beliau bersabda: “Maukah kalian aku beritahu tentang ketiga orang tadi?”Adapun salah seorang diantara mereka, dia meminta perlindungan kepada Allah, maka Allah lindungi dia. Yang kedua, dia malu kepada Allah, maka Allah pun malu kepadanya. Sedangkan yang ketiga berpaling dari Allah maka Allah pun berpaling darinya.”(HR. Bukhari (66) Muslim (2176))
.
Pengertian Shalat Tahiyatul Masjid
.
Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Tahiyyatul Masjid adalah shalat yang dilakukan sebanyak dua Roka’at, dan dikerjakan oleh seseorang ketika masuk ke masjid. Adapun hukumnya termasuk sunnah berdasarkan konsensus karena hal itu merupakan hak setiap orang yang akan masuk ke masjid, sebagaimana dalil-dalil yang telah disebutkan.” (Fathul Bari: 2/407)
.
Siapa Yang Dikecualikan Untuk Tidak Mengerjakan Shalat Tahiyatul Masjid?
.
Ibnu Hajar juga berkata, “Dikecualikan bagi khotib masjid, yang akan masuk ke masjid untuk shalat, dan berkhutbah di hari jum’at, maka seorang khotib tidak perlu melakukan shalat Tahiyatul Masjid. Dikecualikan juga bagi pengurus masjid, karena ia diberi amanah untuk senantiasa keluar masuk masjid, jika setiap keluar masuk di perintahkan untuk shalat tahiyatul masjid, tentu hal itu akan memberatkan baginya. Sebagaimana pula tidak disunnahkan bagi seseorang yang masuk ke masjid sedangkan imam telah menegakkan shalat fardhu atau telah selesai dikumandangkan iqamat, karena sesungguhnya shalat fardhu telah cukup walaupun tidak shalat tahiyatul Masjid.” (Subulus Salam: 1′/320) 
.
Namun sebagian Ulama’ berpendapat disunnahkan melakukan tahiyatul Masjid setiap kali masuk ke Masjid. Hal ini sebagaimana pendapat imam Nawawi, dan ini pendapat yang dipilih oleh ibnu Taimiyyah, dan Ahmad bin Hambal. (Al-Majmu’: 4/75) 
.
Imam Syaukani rahimahullah berpendapat, “Bahwa shalat Tahiyatul Masjid disyari’atkan, meskipun berkali-kali masuk ke masjid, sebagaimana secara ekplisit dinyatakan dalam hadits. (Nailul Authar: 3/70)
Tahiyatul masjid tergolong sebagai penghormatan terhadap masjid. Hal itu sepadan dengan ungkapan salam ketika masuk ke suatu tempat, sebagaimana seorang yang memberi salam kepada sahabatnya ketika bertemu.
.
An-Nawawi rahimahullah berkata, “Sebagian yang lain mengilustrasikan dengan memberi salam kepada pemilik masjid (Allah subhanahu wata’ala). Karena maksud dilakukannya tahiyatul masjid adalah mendekatkan diri kepada Allah, bukan kepada masjid, sebab seseorang yang masuk ke rumah orang lain, yang diberi salam adalah pemiliknya bukan rumahnya. (Hasyiyah Ibnul Qasim: 2/252)
-----------
Referensi:
  • Ahkam Tahiyyatul Masjid, karya Muhammad bin Shalih Al-Khuzaim
  • Ahkam Tahiyatul Masjid fil Fiqh Islami, karya Adil Mubarok Al-Muthirat
Penulis: Lilik Ibadurrohman

Shalat Sunnah ‘’Qudum Minas Safar’’



Shalat Sunnah Ketika Datang Dari Safar

Ada beberapa hadits yang menerangkan tentang sunnahnya mengerjakan shalat dua rakaat di masjid “sepulang dari safar” (Qudum Minas Safar).
.
Syeikh Abu AbdurRahman Nashiruddin menyebutkan lima hadits ini di dalam Kitab “Tsamarul Mustathab” tentang shalat dua raka’at sepulang dari safar (dari perjalanan). Berikut Hadits-haditsnya:
.
Hadits Pertama  :
.
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزَاةٍ، فَأَبْطَأَ بِي جَمَلِي وَأَعْيَا، ثُمَّ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلِي، وَقَدِمْتُ بِالْغَدَاةِ فَجِئْتُ الْمَسْجِدَ فَوَجَدْتُهُ عَلَى بَابِ الْمَسْجِدِ. قَالَ: الآنَ حِينَ قَدِمْتَ؟ قُلْتُ: نَعَمْ. قَالَ: فَدَعْ جَمَلَكَ وَادْخُلْ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ. قَالَ: فَدَخَلْتُ فَصَلَّيْتُ ثُمَّ رَجَعْتُ
.
Dari Jabir bin Abdullah -radhiallohu anhu-, ia berkata: Aku pernah pergi bersama Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- pada suatu peperangan. Lalu tiba-tiba untaku berjalan melambat dan kondisinya melemah. Dan ketika itu Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- telah sampai sebelumku, sedang aku baru sampai pada pagi hari. Kemudian aku pergi ke masjid dan aku mendapati beliau berada di depan pintu masjid. Beliau berkata: ”Apakah engkau baru tiba?” Ya, jawabku.”Tinggalkan untamu, masuklah (ke masjid) dan kerjakan shalat dua rakaat”, lanjut beliau. Lalu aku pun masuk (masjid) dan mengerjakan shalat kemudian pulang. (HR. al-Bukhari, no. 2097, Muslim, no. 715).
.
Hadits Kedua :
.
عن جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، يَقُولُ: بِعْتُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعِيرًا فِي سَفَرٍ، فَلَمَّا أَتَيْنَا المَدِينَةَ قَالَ: «ائْتِ المَسْجِدَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ»
.
Dari Jabir Radhiyallahu Anhu berkata: Aku menjual unta kepada Rasuullah -shollallahu alaihi wa sallam-di tengah perjalanan. Dan tatkala kami sampai ke kota Madinah beliau berkata: Pergilah ke masjid kemudian shalatlah dua rakaat." (HR. al-Bukhari, no. 2604).
.
Hadits Ketiga :
.
Ka’ab bin Malik -radhiallohu anhu- berkata:
.
(كان عليه الصلاة والسلام إذا قدم من سفر بدأ بالمسجد فركع فيه ركعتين ثم جلس للناس)
.
”Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- dahulu, apabila baru tiba dari safar beliau masuk ke masjid kemudian mengerjakan shalat dua rakaat di dalamnya, setelah itu beliau duduk berbincang-bincang kepada manusia.” (HR. al-Bukhari, no. 2604).
.
Hadits Keempat:
.
عن ابن عمررضي الله عنهما : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم حين أقبل من حجته دخل المدينة فأناخ على باب مسجده ثم دخل فركع فيه فركعتين ثم انصرف إلى بيته .قال نافع: فكان ابن عمر كذلك يصنع
.
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma berkata: Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam datang  ke Madinah setelah pulang dari ibadah Haji, lalu Rasulullah menuju ke pintu masjid, lalu beliau masuk ke masjid dan mengerjakan shalat dua raka’at, setelah itu beliau pulang ke rumah. Nafi Rahimahullah berkata: Dahulu Ibnu Umar juga mengerjakan amalan ini.” (Hasan, HR Abu Dawud dan Ahmad, di shahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam “Tsamarul Mustathab (2/626)).
.
Hadits Kelima:
.
عن أبي ثعلبة رضي الله عنه قال: كان إذا قدم من سفر بدأ بالمسجد فصلى فيه ركعتين ثم يثني بفاطمة ثم يأتي أزواجه. وفي لفظ: ثم بدأ ببيت فاطمة ثم أتى بيوت نسائه. رواه الطبراني وغيره كما في (الفتح).
Artinya:
Dari Abi Tsa’labah Radhiyallahu Anhu berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam apabila pulang dari safar beliau masuk ke Masjid terlebih dahulu, lalu shalat didalamnya dua raka’at, lalu menemui Fatimah, lalu setelah itu menemui keluarganya. Dalam lafadz lain: setelah Rasulullah shalat di masjid, lalu beliau masuk ke rumah Fatimah, lalu setelah itu ke rumah istri-istri baliau.” (Hasan, HR Thabrani, di sebutkan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari).
.  
Penjelasan Syarah:
.
Imam an-Nawawi -rahimahullah- berkata (Fath al-Bârî Syarh Shahîh al-Bukhârî, jilid 1, hlm. 706, Syarh Shahîh Muslim, jilid 5, hlm. 228-229, cetakan pertama al-Mathba’ah al-Mishriyyah bi al-Azhar):
.
فِي هَذِهِ الْأَحَادِيثِ اسْتِحْبَابُ رَكْعَتَيْنِ لِلْقَادِمِ مِنْ سَفَرِهِ فِي الْمَسْجِدِ أَوَّلَ قُدُومِهِ وَهَذِهِ الصَّلَاةُ مَقْصُودَةٌ لِلْقُدُومِ مِنَ السَّفَرِ لَا أَنَّهَا تَحِيَّةُ الْمَسْجِدِ
.
Beberapa hadits tersebut mengandung anjuran untuk (mengerjakan shalat) dua rakaat di masjid bagi siapa saja yang baru datang dari safar. Maksud shalat ini adalah Qudum Minas Safar (datang dari safar), bukan shalat tahiyatul masjid."
.
Pada saat menyebutkan faedah hadits Ka’ab bin Malik -radhiallohu anhu- Ibnul Qayyim -rahimahullah- berkata (Zâd al-Ma’âd, jilid 3, hlm. 575, cetakan Mu`assasah ar-Risâlah dan Maktabah al-Manâr al-Islâmiyyah) : Di antara faedahnya adalah, disunnahkan bagi orang yang baru datang dari safar untuk masuk ke kampungnya dalam keadaan suci (berwudhu), dan hendaknya ia menuju rumah Allah (masjid) sebelum pulang ke rumah, lalu ia mengerjakan shalat dua rakaat di dalamnya, kemudian ia duduk (sejenak) bersama orang-orang, baru setelah itu ia kembali ke rumahnya.
.
Sunnah Yang Perlu di Ketahui:
.
Lima hadits tersebut diatas  menunjukkan kepada kita akan dianjurkannya shalat dua rakaat di masjid ketika seseorang baru tiba dari safar sebelum ia masuk ke rumahnya. Ini adalah sunnah Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- dan diamalkan oleh para sahabat. Sebuah sunnah yang banyak ditinggalkan oleh kaum muslimin, baik dari kalangan penuntut ilmu apalagi awamnya. Sangat jarang dari mereka yang mengerjakan sunnah mulia ini.
.
Padahal Imam al-Bukhari -rahimahullah- dengan jelas telah memberi sebuah bab dalam kitab shahîhnya, Bâb: ash-Shalah Idzâ Qadima min Safar, yang artinya Bab: (anjuran) shalat apabila baru datang dari safar.
.
------------------
.
Rererensi:
.
1. Tsamarul Mustathab Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitab Karya SyeikhMuhammad Nashiruddin.
2. Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim Ibnul Hajjaj  Karya Imam Nawawi
3. Zadul Ma’ad Fi Hadyi Khairil Ibad Karya Imam Ibnul Qayyim
.
(Lilik ibadurR (Abu Utsman))